Kinerja Pengrajin Boneka Dalam Penerapan Standar Nasional Mainan Anak

Pengrajin boneka di Indonesia dalam beberapa kurun waktu terakhir ini telah berpusat di Kota Bekasi, setelah sebelumnya, selamanya dua dekade sempat berkembang di daerah Bandung dan Cengkareng. Awal mula hadirnya pengrajin boneka di Kota Bekasi ditandai dengan krisis moneter yang terjadi pada tahun 1998 dan membuat beberapa pabrik boneka asing di Kota Bekasi yang menutup pabriknya sehingga terjadi

pemutusan hubungan kerja. Kebutuhan ekonomi dan lapangan kerja membuat beberapa orang kemudian membangun usaha pembuatan boneka yang terus berkembang hingga saat ini. Indonesia sebagai negara dengan populasi anak usia di bawah 14 tahun yang berdasarkan CIA World Factbook mencapai lebih dari 25%. Mainan anakadalah salah satu sasaran utama industri global, menurut Kementerian Perdagangan, hingga bulan Agustus 2013 nilai impor mainan anak telah mencapai 60 juta dolar, dengan 95% diantaranya berasal dari Cina. Namun, belum tentu seluruh mainan yang beredar itu aman untuk anak, hingga kemudian standar mainan anak diberlakukan wajib (Suryowati, 2013).

Pemberlakuan wajib standar mainan anak untuk produksi boneka di Indonesia, yang juga mengatur berbagai jenis mainan lainnya seperti kelereng, puzzle, baby walker dan lainnya. Standar merupakan sebuah inovasi yang penting bagi industri karena memberikan dampak perbaikan pada setiap produk, baik berupa barang maupun layanan jasa, mulai dari alat transportasi, alat komunikasi, barang-barang elektronik hingga kebutuhan sandang pangan sehari- hari. Standar awalnya diterbitkan untuk memastikan barang dan jasa agar dapat diproduksi dan digunakan pada negara yang berbeda. Standar juga digunakan untuk mengurangi hambatan perdagangan barang dan jasa sehingga dapat diperdagangkan dengan bebas di seluruh dunia. Standar berlaku secara nasional maupun internasional dan pada dasarnya penerapannya bersifat sukarela (BSN, 2011).

Bagi pengrajin boneka, peluang dalam menghadapi tantangan tersebut adalah dengan meningkatkan kemampuan dan mencapai kinerja maksimal dalam menghasilkan produk-produk boneka yang berkualitas dan aman. Kinerja tersebut salah satunya terkait pada peningkatan jumlah produksi boneka sesuai dengan permintaan pasar dan pemenuhan standar yang menjamin kekuatan fisik boneka serta keamanan zat kimia yang terkandung dalam bahan-bahan pembuatnya. Pemenuhan standar ini, selain karena SNI mainan anak sudah wajib, juga untuk menghindari konsekuensi yang tidak diinginkan. SNI adalah satu-satunya standar yang berlaku nasional di seluruh Indonesia, dirumuskan panitia teknis yang berada di masing-masing institusi teknis terkait dan ditetapkan Badan Standardisasi Nasional (BSN) sebagai lembaga pemerintah yang bertugas dalam pengembangan kegiatan standardisasi di Indonesia. Terhitung sejak Oktober 2013 lalu, di Indonesia, melalui Peraturan Menteri Perindustrian No.24/M-Ind/ PER/4/2013 dengan revisi melalui Peraturan Menteri No.55/M-IND/PER/11/2013 tentang pemberlakuan SNI mainan anak secara wajib. SNI ini secara umum mengatur di antaranya spesifikasi sifat fisis dan mekanis (SNI ISO 8124-1:2010), spesifikasi sifat mudah terbakar (SNI ISO 8124-2:2010), perpindahan unsur tertentu atau migrasi zat kimia (SNI ISO 8124-3:2010),  persyaratan zat  warna  azo  dan kadar

formaldehida (SNI 7617:2010) (Kemenperin, 2013). Pemberlakukan  SNI  Wajib  mainan  anak   di Indonesiamenentukan persyaratan bahwa mainan harus dibuat cukup besar (diameter 1,75 inci atau 4,4 sentimeter) dengan bagian yang tidak mudah lepas agar tidak berisiko tertelan, terutama untuk anak di bawah tiga tahun. Mainan yang beredar harus dibuat dari material atau bahan yang tidak mudah terbakar, memiliki permukaan dan sudut yang halus, dibuat kuat, kokoh dan tidak mudah pecah sehingga tidak menggores dan melukai anak. Mainan lipat atau mainan berengsel harus dirancang dengan aman agar tidak menjepit jari anak. Pemakaian zat kimia yang berbahaya tidak diperkenankan karena berpotensi terjadinya keracunan ataupun kematian.

Parameter persyaratan kritikal sesuai Annex B SNI ISO 8124-1:2010 menyebutkan bahwa terdapat poin-poin pentingnya label keselamatan peringatan bahaya tersedak atau kemungkinan bahaya lain yang dapat ditimbulkan oleh mainan, penandaan pabrik berisi nama dan alamat produsen atau produsen dalam bahasa Indonesia.

Pengujian fisis dan mekanis diantaranya meliputi uji bagian kecil, aksesibilitas, uji ujung dan sisi tajam, runcing, tali, beban, kinetik, uji jatuh artinya mainan tidak pecah saat dijatuhkan berkali-kali dari ketinggian tertentu. Uji puntir 180 derajat atau 0,45 Nm selama 10 detik untuk memastikan mainan tidak mudah patah atau terlepas, uji tekan dengan gaya 114 sampai dengan 138 N selama 10 detik memastikan mainan tidak mudah pecah. Uji Tarik 70 N digunakan untuk memastikan jahitan atau bagian mainan tidak mudah terlepas, pukul, dan suara.

Sementara pengujian sifat mudah terbakar sesuai SNI ISO 8124-2:2010 akan memastikan mainan dengan bahan-bahan yang mudah terbakar, seperti tekstil, bahan tenda atau terpal, telah dikondisikan dalam suhu tertentu dapat bertahan dari rata-rata tingkat keterbakaran. Uji bakar harus dilakukan pada mainan berbulu seperti boneka untuk memastikan mainan tidak mengandung seluloid atau mengandung cairan yang mudah terbakar dengan laju bakar kurang dari 30 mm per detik.

Penguji kimia sesuai SNI ISO 8124-3:2010 dilakukan untuk mengetahui kandungan zat kimia sesuai batas maksimal zat berbahaya seperti antimoni (Sb) tidak boleh lebih dari 60 ppm, arsenic (As) tidak boleh lebih dari 25 ppm, barium (Ba) tidak boleh lebih dari 1000 ppm, kadmium (Cd) tidak boleh lebih dari 75 ppm, Kromium (Cr) tidak boleh lebih dari 60 ppm, timbal (Pb) tidak boleh lebih dari 90 ppm, merkuri (Hg) tidak boleh lebih dari 60 ppm, dan selenium (Se) tidak boleh lebih dari 500 ppm.

Pada mainan dengan bahan dasar kain harus diuji persyaratan zat warna azo dan formaldehida sesuai SNI 7617:2010. Zat warna azo tidak boleh lebih dari 20 ppm karena bersifat beracun, mutagenik, karsiogenik dan alergi, pewarna ini biasa digunakan untuk memberi warna cerah dan bersifat tidak biodegradabel serta sulit hilang dari ekosistem. Formaldehida digunakan pada tekstil sebagai pengikat pigmen azo agar warna tahan lama, zat ini tidak boleh lebih dari 75 ppm karena bersifat berbahaya bila tertelan dapat menimbulkan muntah-muntah dan iritasi  saluran  pernapasan, untuk jangka panjang dapat menyebabkan kanker, mengacaukan susunan DNA. Parameter keselamatan lainnya adalah persyaratan kandungan phthalates atau ftalat sesuai EN 71-5, zat ini adalah senyawa kimia yang ditambahkan ke plastik agar lebih lentur. Zat ini sedikit demi sedikit akan terlepas dan berbahaya jika sampai tertelan karena bertindak sebagai anti androgen. Phthalates dengan jenis DBP, BBP, DEHP, DINP, DNOP dan DIDP tidak boleh lebih dari 0,1 persen.

Seluruh ketentuan dalam peraturan tersebut berlaku untuk mainan anak di bawah usia 14 tahun, baik saat awal diterima konsumen, penggunaan normal hingga penggunaan kasar. Hal ini bertujuan untuk mengurangi risiko dan bahaya penggunaan mainan anak. Persyaratan administrasi, persyaratan sertifikasi dan persyaratan penandaan harus dipenuhi oleh seluruh industri mainan anak, baik untuk skala usaha kecil, sedang, maupun besar, buatan dalam maupun luar negeri. Jika tidak maka produk mainan anak yang diproduksi tidak boleh beredar di Indonesia.

Ketentuan ini memberi dampak yang luas  dari sisi kelangsungan usaha kecil menengah, ketenagakerjaan serta devisa negara. Bagi pengrajin, tantangan ini dapat menjadi sebuah nilai tambah, namun juga dapat menjadi hambatan bagi kelangsungan usaha. Peraturan ini masih baru dan belum banyak dilakukan penelitian terkait hal tersebut, karena  itu  penelitian ini menjadi penting untuk dilakukan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belajar Bilangan Kompleks Pada Pemrograman MATLAB

Pengaruh Boneka Terhadap Peningkatan Kecerdasan Anak